![]() |
| [Foto] Peserta dari UKKI Unipra dan LPM BukPoIn serta berbagai organisasi mahasiswa Universitas lain |
Surabaya | LPM BukPoIn – Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Universitas W.R. Supratman (Unipra) bersama Lembaga Pers Mahasiswa Buku, Poin, Intelektual (LPM BukPoIn) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unipra mengikuti Dialog Lintas Agama yang diselenggarakan di Boncafe Gubeng, Surabaya, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Pondok Kasih bersama Forum Beda Tapi Mesra (FBM) tersebut mengangkat tema “Bumi Hanya Satu: Etika Kesederhanaan di Tengah Era Krisis Ekologi”. Dialog ini mempertemukan pemuda berusia 18 hingga 30 tahun dari berbagai agama dan latar belakang untuk membahas persoalan lingkungan melalui perspektif ekologis dan teologis.
Tema tersebut diangkat sebagai respons terhadap berbagai persoalan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, pencemaran lingkungan, hingga rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah.
Ketua Panitia sekaligus Kepala Bidang Pengembangan Pemuda Lintas Agama Yayasan Pondok Kasih, Melianus Hura, M.Th., menjelaskan bahwa krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut persoalan moral dan perilaku manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam.
“Krisis ekologis bukan hanya soal lingkungan. Ini juga tentang hati manusia yang tidak pernah merasa cukup dan terus mengejar kepuasan tanpa batas,” ujarnya.
Menurut Melianus, konsep etika kesederhanaan diangkat untuk mengajak generasi muda memahami makna kecukupan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai gaya hidup konsumtif yang terus berkembang menjadi salah satu faktor pendorong eksploitasi alam secara berlebihan.
Melalui kegiatan tersebut, Melianus berharap para peserta dapat meninjau kembali pola konsumsi serta membangun kesadaran untuk menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Kami berharap seluruh peserta memperoleh pemahaman tentang konsep kecukupan dan bagaimana menghadapi persoalan ekologis yang semakin merajalela di sekitar kita,” tambahnya.
![]() |
| [Foto] Foto bersama Narasumber dan seluruh peserta Dialog Lintas Agama |
Dialog tersebut menghadirkan dua narasumber yang memberikan pandangan mengenai krisis ekologis dari perspektif lingkungan dan keagamaan.
Narasumber pertama, Nur Annisa Putri selaku Founder Green Thousands, memaparkan berbagai persoalan ekologis yang tengah dihadapi Indonesia. Ia menyoroti sejumlah kasus kerusakan lingkungan di berbagai daerah yang menunjukkan bahwa krisis ekologis telah menjadi persoalan nyata bagi masyarakat.
Dalam pemaparannya, Nur Annisa menekankan bahwa kesederhanaan tidak hanya dipahami sebagai gaya hidup, tetapi juga sebagai etika yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, manusia perlu memahami batasan dalam memenuhi kebutuhan agar tidak terjebak dalam pola konsumsi yang berlebihan.
“Kesederhanaan sebagai etika adalah kemampuan membedakan kebutuhan, keinginan, dan tanggung jawab. Ketika seseorang mampu memahami batas-batas tersebut, maka ia akan lebih bijak dalam menggunakan sumber daya yang ada,” jelas Nur Annisa.
Sementara itu, narasumber kedua, Joy Abram Manik dari GKI Pregolan, memberikan pandangan teologis mengenai tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian bumi. Ia menilai bahwa krisis ekologis tidak hanya disebabkan oleh aktivitas manusia yang merusak alam, tetapi juga berkaitan dengan cara pandang dan kondisi batin manusia.
“Masalah utama manusia adalah hati. Karena itu, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui teknologi atau kebijakan semata, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang dan pembenahan hati manusia,” ujar Joy.
Menurutnya, penerapan etika kesederhanaan dapat menjadi salah satu upaya untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam. Perubahan tersebut perlu dimulai dari kesadaran individu untuk mengendalikan keinginan dan menghindari perilaku konsumtif yang berpotensi merusak lingkungan.
Selain membahas etika kesederhanaan, dialog tersebut juga menyoroti sejumlah persoalan lingkungan di Indonesia, seperti kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, bencana ekologis di Sumatera dan Aceh, serta deforestasi di Papua. Berbagai persoalan tersebut menjadi gambaran bahwa krisis ekologis bukan lagi sekadar ancaman pada masa mendatang, melainkan persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.
Dialog tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai persoalan lingkungan, tetapi juga mengajak peserta merefleksikan peran masing-masing dalam menjaga kelestarian bumi.
Pandangan dari Mahasiswa
Wakil Ketua UKKI Unipra, Riyan Maulana Hasandy, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, dialog lintas agama ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, tanpa memandang latar belakang agama.
“Saya merasa beruntung dapat mengikuti dialog lintas agama ini. Tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi saat ini karena mengingatkan kita bahwa lingkungan harus dijaga bersama dan tidak boleh dirusak oleh sikap serakah manusia. Kegiatan ini membuka wawasan saya bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh manusia,” ungkap Riyan.
Selain memperluas wawasan mengenai isu lingkungan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para peserta untuk membangun relasi dan mempererat hubungan antarpemuda lintas agama.
Salah satu peserta dari LPM BukPoIn, Leonard Syafiq, mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam dialog tersebut menjadi kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru sekaligus menjalin hubungan dengan mahasiswa dan pemuda dari berbagai universitas.
“Harapan saya hadir di diskusi lintas agama ini adalah mendapatkan pengalaman serta relasi. Di tempat ini banyak mahasiswa dan pemuda dari berbagai universitas yang hadir sehingga menjadi kesempatan yang baik untuk saling mengenal dan bertukar pandangan,” ungkap Leonard. (Hds/Shb)

