BEM SI Jatim Gelar Aksi Simbolik di Grahadi, Soroti Penanganan Bencana di Sejumlah Daerah

[Foto] Masa Aksi di depan gedung Grahadi

Surabaya | LPM BukPoIn– Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Timur menggelar aksi simbolik di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (31/8/2026). Aksi tersebut menjadi wadah mahasiswa untuk menyuarakan keresahan terhadap penanganan bencana di sejumlah daerah yang dinilai masih membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah.

Aksi yang diikuti sekitar 200–300 mahasiswa tersebut menyoroti persoalan kebencanaan di sejumlah wilayah Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara Timur (NTT), Aceh, Kalimantan, Papua, dan Lampung. Mahasiswa juga menaruh perhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah daerah.

Ketua BEM Universitas Airlangga, Muhammad Rizki Senja Virawan, mengatakan keresahan mahasiswa muncul setelah melihat kondisi masyarakat yang terdampak bencana di berbagai wilayah. Menurutnya, meskipun pemerintah telah hadir dalam upaya penanganan bencana, masih terdapat masyarakat di wilayah terpencil yang belum mendapatkan bantuan secara maksimal.

“Saya bersama teman-teman sempat ke NTT pada tanggal 26 kemarin. Memang pemerintah sudah datang ke sana, tetapi masih banyak daerah-daerah terpencil, terutama di wilayah pegunungan yang aksesnya sulit dijangkau, yang belum mendapatkan penanganan secara optimal,” ujarnya.

Selain persoalan bencana, mahasiswa turut menyoroti penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang dinilai belum terselesaikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa menyampaikan aspirasi agar pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap persoalan kebencanaan dan kondisi masyarakat terdampak.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga membawa isu terkait meninggalnya seorang pedagang cermin bernama Bambang Setiawan yang disebut terjadi pada 27 Agustus di Jakarta. Isu tersebut turut disampaikan sebagai bagian dari keresahan mahasiswa terhadap sejumlah persoalan yang dinilai belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah.

Berbeda dengan demonstrasi pada umumnya, BEM SI Jawa Timur mengemas kegiatan tersebut dalam bentuk aksi simbolik. Rizki mengatakan kegiatan tersebut tidak ditujukan untuk mengerahkan massa dalam jumlah besar, melainkan menjadi ruang refleksi terhadap berbagai persoalan yang tengah terjadi di masyarakat.

“Hari ini kami mengadakan aksi simbolik, bukan aksi massa. Tujuannya adalah merefleksikan kondisi bahwa negara belum benar-benar cakap dalam merespons berbagai persoalan kebencanaan yang terjadi,” katanya.

Aksi tersebut diikuti mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur. Peserta berasal dari beberapa kampus di Surabaya, Madura, hingga Malang, di antaranya Universitas Airlangga, Universitas Wijaya Kusuma, Universitas Terbuka, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas K.H. Bahauddin Mudhary Madura, STKIP, serta Universitas Negeri Malang.

Sejumlah rangkaian kegiatan digelar dalam aksi tersebut, mulai dari orasi, pertunjukan teatrikal, tabur bunga, doa bersama, hingga pembacaan pernyataan sikap. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari penyampaian aspirasi mahasiswa yang dikemas secara damai dan simbolik.

Dalam kesempatan tersebut, salah seorang mahasiswa turut menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan mahasiswa merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa, bukan bentuk kebencian terhadap pemerintah.

“Kami mengkritik bukan berarti menghina negara. Salah satu bentuk cinta kepada negara adalah menyampaikan kebenaran, meskipun terasa pahit. Kritik yang disampaikan masyarakat adalah bagian dari upaya memperbaiki keadaan agar negara dapat lebih baik dalam melayani rakyat,” ujarnya. (Ihm/Shb)